Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan Berduka Yang Memilih Semangka Sebagai Temannya

Oleh : Dita Azura

Berduka sering dimaknai sebagai reaksi atau cara seseorang untuk memproses rasa sakit terhadap suatu kehilangan. Perasaan yang didapat tidak hanya kesedihan, melainkan kemarahan, penyangkalan hingga penyesalan atas hal-hal yang belum sempat direalisasikan bersama orang yang telah dulu berpulang. Saya mengibaratkan berduka seperti sebuah perjalanan dengan rute yang tidak memiliki maps, tidak ada arah tuju yang pasti dan garis akhir yang sebenarnya. Kadangkala perasaan saat berduka terasa seperti ada dalam sebuah tempat wisata yang menyediakan banyak wahana, namun pengunjung satu-satunya hanyalah diri kita, bisa dibayangkan betapa sunyi dan hampa suasananya. Ditinggalkan untuk selamanya oleh orang terkasih, tanpa tau apakah masih bisa bertemu di kehidupan selanjutnya.
Perempuan Berduka Yang Memilih Semangka Sebagai Temannya
Gambar : Pixabay


Pengalaman dan Tahap-Tahap Berduka

Seperti yang saya alami sendiri, tepat 2 tahun lalu ditinggalkan oleh nenek yang selama ini menjadi support system dalam hidup saya. Sebuah pukulan yang sakitnya belum menemukan obat penyembuh, atau lebih tepatnya akan terus dibawa sepanjang saya melangkah. Tidak pernah terlintas dalam bayangan pikiran saya jika harus berpisah dengan nenek di usia saya yang baru menginjak awal 20-an, usia dimana saya belum menjadi ‘manusia’ bahkan masih kewalahan dengan pertarungan kepala tentang banyak hal yang sedang dipertaruhkan, terutama soal mimpi dan cita-cita yang selama ini selalu kami ceritakan bersama. Do’anya yang selalu mengiringi kemanapun langkah saya, aamiin yang selalu dia ucapkan dengan antusias tiap saya berdo’a minta hal-hal yang hampir mustahil jadi nyata, pendukung pertama sekaligus pembela saya saat dimarahi mama, harus ditutup dengan episode perpisahan yang tidak bisa saya hadiri karena berada jauh di perantauan untuk kuliah demi misi untuk membuatnya bangga.

Jangan ditanya seperti apa perasaan hancurnya, saat menulis ini pun rasa sedihnya masih sama. Namun, saat ini saya sudah berada pada fase penerimaan yang merupakan tahapan dimana seseorang akhirnya menerima bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh orang yang dicintai dan menyadari bahwa hidup harus terus berjalan tanpa menanti kita siap untuk menerima dukanya.

Mengutip sebuah konsep dari Elisabeth Kubler-Ross, seorang psikiater yang dikenal dengan tahapan-tahapan berduka yang disusunnya. Menurut Kubler-Ross, ada 5 tahapan dalam berduka, yakni:

Denial (penyangkalan); tahapan dimana seseorang menolak untuk percaya bahwa orang yang mereka cintai telah tiada.

Anger (marah); tahapan dimana seseorang sudah sadar akan apa yang terjadi, dipenuhi emosi negatif/kemarahan dan membenci keadaan yang menimpanya.

Bargaining (menawar); tahapan dimana seseorang yang ditinggalkan mencoba mengubah keadaan dengan meminta agar orang tercintanya hidup kembali bersamanya.

Depression (depresi); tahapan dimana seseorang yang ditinggalkan menyadari bahwa tidak akan bisa hidup bersama lagi dengan orang yang dicintai sehingga merasa kosong, putus asa dan kesulitan menjalankan kesehariannya karena sulit tidur, tidak selera makan, mengisolasi diri, bahkan berpikir ingin mengakhiri hidup saja.

Acceptance (penerimaan); tahapan dimana seseorang akhirnya menerima bahwa dirinya telah ditinggalkan, serta menyadari bahwa dirinya harus melanjutkan hidup yang akan terus berjalan.

Kubler-Ross pada sekitar 1970 menyatakan bahwa tiap tahapan tidak dialami secara linier, seseorang bisa mengalami beberapa tahapan secara bersamaan, atau bahkan tidak mengalami tahapan tertentu dan langsung melangkah ke tahap penerimaan seperti yang saya alami.


Potongan Semangka Penuh Cinta

Setelah kehilangan itu terjadi, saya melanjutkan hari-hari dengan perasaan dipenuhi kebingungan. Keseharian yang dijalani terasa berlalu begitu saja, dan satu hal yang terus muncul dalam ingatan saya adalah semangka. Buah yang sejak kecil memiliki tempat tersendiri dalam hidup karena saya sering memakannya bersama nenek, biasanya dibaluri dengan garam di seluruh pinggiran daging semangkanya. Awalnya terasa aneh, bagaimana rasa manis semangka harus bercampur dengan asinnya garam. Namun, seperti banyak kenangan masa kecil lainnya, kebiasaan makan semangka garam itu sekarang menjadi momen yang begitu saya rindukan.
Perempuan Berduka Yang Memilih Semangka Sebagai Temannya
Gambar : Pixabay


Teringat juga betapa serunya momen panen semangka di kebun milik kakek yang sengaja ditanaminya dengan aneka buah-buahan untuk cucu-cucunya tercinta. Sepupu-sepupu saya biasanya makan semangka langsung menggunakan sendok, mula-mula nenek membelah sebuah semangka menjadi dua bagian dan mereka bisa langsung menyendok daging buahnya, berbeda dengan saya yang lebih menyukai sensasi makan potongan semangka garam ala nenek. Kala itu, semangka hanyalah buah favorit bagi saya kecil. Tidak pernah terbayang di benak saya jika bertahun-tahun kemudian, buah yang sama akan menjadi salah satu cara saya mengenang dan terus merawat cinta di hati saya untuk sosok nenek yang telah berpulang selamanya.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa semangka tidak hanya hadir sebagai bagian dari kenangan masa kecil. Tanpa sadar, saya terus mencarinya dalam berbagai bentuk; jus semangka tanpa gula, semangka potong, es krim semangka, hingga semangkuk sop buah. Terutama pada hari-hari ketika rindu terasa begitu berat dan perantauan terasa semakin sepi. Ada perasaan tenang yang sulit dijelaskan setiap kali menikmati semangka, seolah sebagian kecil dari kenangan bersama nenek masih tersimpan di dalamnya. Saya juga selalu memilih semangka tanpa gula. Barangkali karena ada bagian dalam diri saya yang belum sepenuhnya berdamai dengan diabetes, penyakit yang perlahan menggerogoti tubuh nenek hingga akhir hayatnya. Namun, seperti halnya proses berduka yang tidak pernah berjalan lurus, pelan-pelan saya mulai lebih dekat dengan kenyataan. Semangka tidak lagi menjadi tempat saya bersembunyi dari kehilangan, semangka bukan lagi pelarian setiap kali merasa sedih, melainkan teman yang mengiringi saya berjalan melewati setiap fasenya.

Dita Azura, Mahasiswa Psikologi Angkatan 2024, UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Posting Komentar untuk " Perempuan Berduka Yang Memilih Semangka Sebagai Temannya"