Media Sosial Pada Anak Dan Remaja: Antara Ruang Untuk Berkembang dan Risiko Perilaku Bermasalah
Oleh : Ayla Azzuhra
Di era globalisasi yang sedang kita jalani sekarang,
perkembangan teknologi berkembang dengan sangat pesat. Segala hal dapat diakses
dengan sangat mudah, baik dalam hal komunikasi, informasi, pendidikan, maupun
ekonomi. Salah satu bukti nyata dari kemudahan tersebut adalah hadirnya media
sosial dalam kehidupan masyarakat. Aplikasi seperti facebook, TikTok,
Instagram, WhatsApp, X, dan lainnya memudahkan akses ke
segala bidang. Apapun bisa dilakukan dan didapatkan hanya bermodalkan gadged
dan kuota internet. Kita bisa mengakses komunikasi dengan mengirimkan pesan
singkat, telepon suara, atau video call dari berbagai aplikasi. Informasi
dari berbagai daerah juga sangat mudah untuk di akses, termasuk informasi di
mancanegara. Namun, di balik berbagai manfaat dan kemudahan yang bisa
diperoleh, banyak juga dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika media sosial
tidak digunakan secara bijak, contohnya seperti kecanduan media sosial. Hal ini
merupakan permasalahan yang perlu diperhatikan dengan serius oleh orang tua,
masyarakat, maupun pemerintah.
Penggunaan media sosial yang tidak dibatasi secara bijak bisa menimbulkan dampak negatif terhadap psikologis, terutama pada anak dan remaja. Anak-anak belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mereka akan terus melakukan apa yang menurut mereka menyenangkan, tanpa mempertimbangkan efek yang bisa ditimbulkan. Sedangkan remaja sudah mulai paham tentang efek dari suatu tindakan yang mereka lakukan, tetapi seringkali masih labil dan cenderung mengikuti pengaruh dari orang lain, baik dari teman sebaya, lingkungan sekitar, idola, atau tayangan yang mereka tonton. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan dari orang tua, pembelajaran atau sosialisasi dari pihak sekolah dan pendidik, serta penegakan hukum oleh pemerintah.
Kecanduan
Sebagai Akibat Penggunaan Media Sosial
Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat
mengakibatkan kecanduan. Anak dan remaja yang terlalu sering menggunakan media
sosial menjadi sulit untuk melepaskan diri dari gadged. Beberapa
aplikasi seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan lainnya
menyediakan umpan balik seperti “like” dan komentar yang bisa mendorong
penggunanya untuk terus memposting agar mendapat umpan balik. Untuk anak dan
remaja yang pengendalian dirinya belum terbentuk secara sempurna, hal ini dapat
mengarah kepada penggunaan secara terus menerus dan kecanduan. Anak-anak dan
remaja sangat beresiko mengalami kecanduan media sosial. Menurut Gallup,
rata-rata remaja menggunakan media sosial selama 5 jam per hari. Menurut
Anschutz dari Universitas Colorado, sekitar 95% anak-anak berusia 10-17 tahun
menggunakan media sosial secara terus menerus.
Kecenderungan
Menghindari Interaksi Sosial Secara Langsung
Dampak kecanduan media sosial juga dapat
mengakibatkan kesulitan tidur, apalagi jika media sosial digunakan pada malam
hari. Hal ini disebabkan oleh paparan sinar blue light yang menekan
hormon melatonin (hormon tidur) dan stimulasi konten memicu otak untuk terus
bekerja dan didorong untuk mencari konten yang lebih menarik. Kecanduan
terhadap media sosial juga menghambat perkembangan dan kemampuan sosial. Anak
menjadi kurang berinteraksi secara langsung yang menyebabkan kesulitan untuk
memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada bicara orang lain. Anak
terbiasa memiliki jeda untuk memikirkan atau mengedit sesuatu sebelum merespon,
sehingga anak atau remaja merasa cemas jika menghadapi situasi nyata yang
mengharuskan mereka untuk merespon secara spontan. Hal ini menyebabkan mereka
menganggap dunia virtual lebih aman dan cenderung menarik diri dari interaksi
secara langsung.
Perilaku
Agresif Sebagai Dampak Tontonan Negatif di Media Sosial
Selain itu, tontonan terhadap konten yang mengandung
kekerasan dan ujaran kebencian juga dapat menyebabkan munculnya perilaku
agresif pada anak atau remaja. Anak-anak masih belajar melalui apa yang mereka
lihat dan apa yang mereka dengar kemudian menirunya dalam tindakan mereka. Ketika
suatu konten kekerasan atau ujaran kebencian seperti tayangan tentang
perkelahian, penyiksaan, pertengkaran, perkataan menghina, provokasi, atau
hasutan sering ditampilkan, dianggap sesuatu yang wajar, dan tidak ada peran
orang orang tua yang membatasi tontonan anak, maka anak akan menganggap wajar
untuk menerapkan apa yang mereka tonton dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Anak bisa terdorong untuk memukul, melempar barang, berbohong, menghina, dan
perilaku negatif lainnya ketika marah atau menghadapi masalah.
Media sosial memang memberikan banyak dampak positif
dalam segala bidang baik dalam hal komunikasi, informasi, pendidikan, maupun
ekonomi. Media sosial juga memiliki manfaat bagi anak dan remaja untuk
mengakses materi pembelajaran, memperluas pertemanan, serta meningkatkan
kreativitas. Namun, media sosial juga bisa menimbulkan banyak dampak negatif
jika tidak dibatasi atau digunakan secara bijak, terutama pada anak dan remaja
yang pengendalian dirinya belum terbentuk dengan sempurna. Dikarenakan pengendalian
diri pada anak dan remaja yang belum terbentuk secara maksimal, maka diperlukan
peran dari orang tua, sekolah, maupun lingkungan sekitar untuk memberikan
arahan supaya mereka mampu menggunakan media sosial dengan bijak dan bisa mendapatkan
manfaat serta dampak positifnya.
Ayla Azzuhra, Mahasiswa Psikologi
Angkatan 2024, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Posting Komentar untuk "Media Sosial Pada Anak Dan Remaja: Antara Ruang Untuk Berkembang dan Risiko Perilaku Bermasalah"