Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Media Sosial Pada Anak Dan Remaja: Antara Ruang Untuk Berkembang dan Risiko Perilaku Bermasalah

 Oleh : Ayla Azzuhra


Di era globalisasi yang sedang kita jalani sekarang, perkembangan teknologi berkembang dengan sangat pesat. Segala hal dapat diakses dengan sangat mudah, baik dalam hal komunikasi, informasi, pendidikan, maupun ekonomi. Salah satu bukti nyata dari kemudahan tersebut adalah hadirnya media sosial dalam kehidupan masyarakat. Aplikasi seperti facebook, TikTok, Instagram, WhatsApp, X, dan lainnya memudahkan akses ke segala bidang. Apapun bisa dilakukan dan didapatkan hanya bermodalkan gadged dan kuota internet. Kita bisa mengakses komunikasi dengan mengirimkan pesan singkat, telepon suara, atau video call dari berbagai aplikasi. Informasi dari berbagai daerah juga sangat mudah untuk di akses, termasuk informasi di mancanegara. Namun, di balik berbagai manfaat dan kemudahan yang bisa diperoleh, banyak juga dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika media sosial tidak digunakan secara bijak, contohnya seperti kecanduan media sosial. Hal ini merupakan permasalahan yang perlu diperhatikan dengan serius oleh orang tua, masyarakat, maupun pemerintah.

Gambar : Pixabay

Penggunaan media sosial yang tidak dibatasi secara bijak bisa menimbulkan dampak negatif terhadap psikologis, terutama pada anak dan remaja. Anak-anak belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mereka akan terus melakukan apa yang menurut mereka menyenangkan, tanpa mempertimbangkan efek yang bisa ditimbulkan. Sedangkan remaja sudah mulai paham tentang efek dari suatu tindakan yang mereka lakukan, tetapi seringkali masih labil dan cenderung mengikuti pengaruh dari orang lain, baik dari teman sebaya, lingkungan sekitar, idola, atau tayangan yang mereka tonton. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan dari orang tua, pembelajaran atau sosialisasi dari pihak sekolah dan pendidik, serta penegakan hukum oleh pemerintah.

 

Kecanduan Sebagai Akibat Penggunaan Media Sosial

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengakibatkan kecanduan. Anak dan remaja yang terlalu sering menggunakan media sosial menjadi sulit untuk melepaskan diri dari gadged. Beberapa aplikasi seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan lainnya menyediakan umpan balik seperti “like” dan komentar yang bisa mendorong penggunanya untuk terus memposting agar mendapat umpan balik. Untuk anak dan remaja yang pengendalian dirinya belum terbentuk secara sempurna, hal ini dapat mengarah kepada penggunaan secara terus menerus dan kecanduan. Anak-anak dan remaja sangat beresiko mengalami kecanduan media sosial. Menurut Gallup, rata-rata remaja menggunakan media sosial selama 5 jam per hari. Menurut Anschutz dari Universitas Colorado, sekitar 95% anak-anak berusia 10-17 tahun menggunakan media sosial secara terus menerus.

 

Kecenderungan Menghindari Interaksi Sosial Secara Langsung

Dampak kecanduan media sosial juga dapat mengakibatkan kesulitan tidur, apalagi jika media sosial digunakan pada malam hari. Hal ini disebabkan oleh paparan sinar blue light yang menekan hormon melatonin (hormon tidur) dan stimulasi konten memicu otak untuk terus bekerja dan didorong untuk mencari konten yang lebih menarik. Kecanduan terhadap media sosial juga menghambat perkembangan dan kemampuan sosial. Anak menjadi kurang berinteraksi secara langsung yang menyebabkan kesulitan untuk memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada bicara orang lain. Anak terbiasa memiliki jeda untuk memikirkan atau mengedit sesuatu sebelum merespon, sehingga anak atau remaja merasa cemas jika menghadapi situasi nyata yang mengharuskan mereka untuk merespon secara spontan. Hal ini menyebabkan mereka menganggap dunia virtual lebih aman dan cenderung menarik diri dari interaksi secara langsung.

 

Perilaku Agresif Sebagai Dampak Tontonan Negatif di Media Sosial

Selain itu, tontonan terhadap konten yang mengandung kekerasan dan ujaran kebencian juga dapat menyebabkan munculnya perilaku agresif pada anak atau remaja. Anak-anak masih belajar melalui apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar kemudian menirunya dalam tindakan mereka. Ketika suatu konten kekerasan atau ujaran kebencian seperti tayangan tentang perkelahian, penyiksaan, pertengkaran, perkataan menghina, provokasi, atau hasutan sering ditampilkan, dianggap sesuatu yang wajar, dan tidak ada peran orang orang tua yang membatasi tontonan anak, maka anak akan menganggap wajar untuk menerapkan apa yang mereka tonton dalam kehidupan mereka sehari-hari. Anak bisa terdorong untuk memukul, melempar barang, berbohong, menghina, dan perilaku negatif lainnya ketika marah atau menghadapi masalah.


Gambar : Pixabay

Media sosial memang memberikan banyak dampak positif dalam segala bidang baik dalam hal komunikasi, informasi, pendidikan, maupun ekonomi. Media sosial juga memiliki manfaat bagi anak dan remaja untuk mengakses materi pembelajaran, memperluas pertemanan, serta meningkatkan kreativitas. Namun, media sosial juga bisa menimbulkan banyak dampak negatif jika tidak dibatasi atau digunakan secara bijak, terutama pada anak dan remaja yang pengendalian dirinya belum terbentuk dengan sempurna. Dikarenakan pengendalian diri pada anak dan remaja yang belum terbentuk secara maksimal, maka diperlukan peran dari orang tua, sekolah, maupun lingkungan sekitar untuk memberikan arahan supaya mereka mampu menggunakan media sosial dengan bijak dan bisa mendapatkan manfaat serta dampak positifnya.

 

Ayla Azzuhra, Mahasiswa Psikologi Angkatan 2024, UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 


Posting Komentar untuk "Media Sosial Pada Anak Dan Remaja: Antara Ruang Untuk Berkembang dan Risiko Perilaku Bermasalah"